24.4 C
New York
Sunday, October 25, 2020
Home Destinasi Wisata Sejarah Babad Godog, candi cangkuang

Sejarah Babad Godog, candi cangkuang

Babad dalam kesusastraan Sunda merupakan istilah yang merujuk pada cerita sejarah. Namun dalam babad seringkali terselip mitos dan doneng. Demikian pula cerita yang terdapat dalam Babad Godog yang sering juga di sebut Wawacan Prabu Kean Santang Aji karena ceritanya ditulis dalam bentuk wawacan, sejenis puisi tradisional yang disusun menggunakan aturan pupuh. Wawacan ini sering dipentaskan dalam pagelaran beluk atau mamaca/macapat, terutama dalam upacara khitanan, karena ada sebagian isinya bercerita tentang bagimana cara mengkhitan.

Babad Godog menceritakan proses islamisasi di Tanah Sunda yang dilakukan oleh tokoh yang terkenal dengan sebutan Kean Santang. Diceritakan bhawa Kean Santang adalah putra Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Karena kesaktiannya, ia tidak pernah melihat darahnya sendiri. Ahli nujum dikumpulkan, untuk mengetahui siapa gerangan yang mampu mengalahkannya. Seorang kakek, konon penjelmaan Jibril, menghadap Prabu Siliwangi dan memberitahukan bahwa yang mampu mengungguli kesaktian Kean Santang hanyalah Bagenda Ali dari Mekah.


Atas izin ayahnya, Kean Santang berangkat ke Mekah. Namun di atas langit ia dicegat seorang putri cantik yang meminta dibuatkan untaian bintang. Namun bintang-bintang malah menjauhinya dan Kean Santang mengejarnya hingga sampai dilangit Mekah. Selama pengejaran bintang tersebut, di langit terjadi keributan yang membuat Nabi Muhammad mengutus Bagenda Ali, sahabatnya, untuk melihat apa yang sedang terjadi. Atas bantuan Bagenda Ali, Kean Santang dapat menarik untaian bintang yang segera berubah menjadi untaian tasbih.


Kean Santang kemudian tahu bahwa yang membantunya adalah Bagenda Ali, orang yang yang selama ini dicarinya. Ia kemudian mengajak bertarung. Namun Bagenda Ali tidak melayaninya dan menghilang. Kean Santang mencoba mengejarnya hingga ke daratan Mekah.
Sesampainya di daratan ia bertemu seorang kakek yang sedang memikul tiang mesjid dan membawa tongkat. Kakek itu bersedia mempertemukan Kean Santang dan Bagenda Ali. Namun sebelumnya Kean Santang disuruh mengambil tongkatnya itu, ternyata Kean Santang tidak mampu mencabutnya, bahkan sampai keluar darah dari pori-porinya.
Akhirnya Kean Santang menyerah, ia bersedia masuk Islam dan akhirnya diakui sebagai sahabat nabi. Oleh Muhammad ia diperintahkan untuk menyebarkan Islam di Pulau Jawa. Ketika pulang ia langsung menemui ayahnya dan menyampaikan perintah Nabi. Namun Prabu Siliwangi meminta bukti jika ia utusan Nabi. Kean Santang kembali ke Mekah. Nabi memberiya Al-quran dan piagam pengangkatan.

Kean Santang kembali pada ayahnya dan mengajak masuk Islam. Namun Prabu Siliwangi menolaknya dan memilih kabur beserta pengawalnya. Prabu Siliwangi kemudian berubah wujud menjadi harimau dan kerajaanya dalam sekejap berubah menjadi hutan belantara. Kean Santang melanjutkan perjalanannya menyebarkan Islam. Sampailah ia di Godog dan menetap disana. Ketika meninggal pun ia dimakamkan di Godog.

 

Most Popular

Garut Kuliner Malam

Jumat 14 Agustus 2020 Bupati Garut Bapak H. Rudy Gunawan, SH, MH, MP secara resmi membuka acara Garut kuliner malam yang nantinya...

Simulasi Acara “Garut Culinary Night”

Salam pesona garut Pada tanggal 13 agustus 2020 Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Garut H. Budi Gan Gan SH, M.Si dan Kepala...

Pelatihan Pemandu Wisata Sejarah dan Warisan Budaya

Salam Pesona Garut Pelatihan Pemandu Wisata Sejarah dan Warisan Budaya 2020 dengan lokasi Makan Syekh Jafar Sidiq dan Situ Candi Cangkuang yang di...

Proses Pembongkaran dan Pengangkutan Gerbong Kereta Api Mini di Situ Bagendit

Pada tanggal 13 agustus 2020 dilakukan proses pembongkaran dan pengangkutan gerbong kereta api mini di Situ Bagendit sebagai tahap awal dimulainya revitalisasi...

Recent Comments