24.4 C
New York
Sunday, October 25, 2020
Home Budaya Cerita Daerah Cerita Daerah Asal Usul Hutan Leuweng Sancang Garut

Cerita Daerah Asal Usul Hutan Leuweng Sancang Garut

Leuweng Sancang merupakan salah satu destinasi wisata di Garut yang masih eksotik. Mulai dari sungai hingga pantai indah, semua ada di Leuweng Sancang. Leuweung yang berarti hutan dalam Bahasa Sunda ini, dan Sancang yang mengingatkan dengan kisah Prabu Siliwangi. Leuweung Sancang yang memang erat kaitannya dengan mitos suku sunda ini, sempat memberikan wajah seram di muka para awam. Wilayah ini memang masih perawan, bak tak ada orang yang ingin menjamahnya karena mitos dengan cerita hewan-hewan buasnya.

Memasuki abad 21 ini, Sancang sudah mulai ramah namun tetap terjaga keeksotikannya sebagai keajaiban alam Indonesia. Di sini kita dapat berkemah di daerah Cijeruk dan melakukan petualangan ke daerah Sancang dengan berjalan kaki menyebrangi muara dan melintasi bibir pantai yang terbentang panjang dengan pantai pasir putih yang kadang memantulkan warna pink atau jingga saat air laut surut.

Konon menurut sejarah yang beredar secara turun temurun Leuweung Sancang erat dikaitkan dengan tempat menghilangnya Prabu Siliwangi yang menjadi kebanggan masyarakat Jawa Barat. Siliwangi adalah nama seorang raja di tanah Pasundan, yaitu Prabu Siliwangi yang memerintah Padjadjaran. Kerajaan Padjadjaran merupakan kerajaan Hindu terbesar di Jawa Barat. Dan Prabu Siliwangi termashur sebagai raja bijaksana yang memiliki seorang istri bernama Dewi Kumalawangi. Beliau dikaruniai seorang putri Dewi Rarasantang serta dua orang putra Raden Walangsungsang dan Raden Kiansantang yang terkenal sakti dan kebal terhadap senjata apapun. Menurut sejarah, Raden Kiansantang memeluk agama Islam dan menetap di daerah Godog sampai meninggal dunia dan dimakamkan di makam Godog Garut, Jawa Barat.

Menurut sejarah yang mungkin terjadi penyimpangan karena dituturkan dari mulut ke mulut, Raden Kiansantang yang terkenal sakti belum pernah menemukan orang yang mampu melukai tubuhnya. Padahal ia ingin sekali melihat darahnya mengalir. Sampai pada suatu hari, ia memohon kepada ayahnya agar dicarikan lawan hebat. Prabu Siliwangi mengabulkan permohonan Raden Kiansantang, Beliau meminta bantuan para ahli nujum untuk menemukan siapa dan di mana orang sakti yang dapat mengalahkan putranya, Raden Kiansantang. Mereka tidak bisa menunjukkan orang yang bisa mengalahkan Raden Kiansantang.

Sampai akhirnya muncul seorang kakek yang menyebutkan ada seorang yang gagah dan bisa mengalahkan Raden Kiansantang, namanya Ali di tanah suci Mekah. Sebelum Raden Kiansantang berangkat menemui Ali, kake itu menyuruhnya bersemedi dulu di ujung kulon atau ujung barat Pasundan dan berganti nama menjadi Galantrang Setra. Setiba di tanah Mekkah, ia langsung mencari orang yang bernama Ali sampai akhirnya ketemu dengan orang yang tidak dikenal di Arab. Orang itu bersedia mengantarkan Raden Kiansantang bertemu dengan Ali dengan syarat ia mampu mengambil tongkat yang telah ditancapkan di sebuah tempat. Raden Kiansantang tak menolak syarat tersebut, ia mengambil tongkat yang telah tertancap di pasir. Tapi apa yang terjadi, ia sangat terkejut karena ketika tongkat itu tidak bisa dicabut. Bahkan sampai mengerahkan segala kemampuannya hingga pori-porinya mengeluarkan darah.

Melihat Kiansantang yang tak mampu mencabut tongkatnya, pria itu menghampiri dan mencabut tongkatnya sambil membaca Bismillah. Tongkat itupun dapat dicabut dengan sangat mudah. Kiansantang heran, dirinya sampai mengeluarkan keringat darah sedangkan pria itu dapat dengan mudah mencabut tongkat itu. Menurut legenda, pria itu adalah Ali. Singkat cerita, Kiansantang akhirnya memeluk agama Islam. dan setelah beberapa bulan belajar agama Islam, ia kembali ke tatar Sunda sambil membawa niat untuk membujuk ayahnya supaya masuk Islam.

Sesampai di Padjadjaran, ia menceritakan kejadian yang dialaminya selama di Mekkah. Akhirnya ia berharap ayahnya bersedia ikut memeluk agama Islam. Namun Prabu Siliwangi menolak ajakan putranya itu. Kiansantang sangat kecewa mendengar keputusan ayahnya bersikeras memeluk Hindu yang sudah dianutnya sejak lahir. Ia kembali ke Mekah untuk memperdalam agama Islam. 7 tahun kemudian, Kiansantang kembali ke Padjadjaran. Ia mencoba lagi membujuk ayahnya masuk Islam. Mendengar putranya kembali, Prabu Siliwangi tetap pada pendiriannya memeluk agama Hindu menyulap keraton Padjadjaran menjadi hutan belantara.

Kiansantang sangat kaget melihat keraton Padjadjaran telah berubah menjadi hutan rimba, dalam hatinya yakin ia tidak mungkin salah, di tempat itulah keraton berdiri. Setelah mencari ke sana ke mari, akhirnya ia menemukan ayahnya dan para pengawalnya keluar dari hutan. Dengan nada hormat, Raden Kiansantang berkata pada ayahnya “Wahai Ayahanda, mengapa Ayahanda tinggal di hutan? Padahal Ayahanda seorang raja. Apakah pantas seorang raja tinggal di hutan? Lebih baik kita kembali ke keraton dan memeluk agama Islam”. Mendengar pertanyaan putranya, Prabu Siliwangi balik bertanya, “Wahai Ananda, lantas apa yang pantas tinggal di hutan?”. Raden Kiansantang menjawab, “Yang pantas tinggal di hutan adalah harimau”.

Konon, prabu Siliwangi beserta para pengawalnya tiba-tiba berubah wujud menjadi harimau (maung). Raden Kiansantang menyesal telah mengucapkan kata harimau hingga ayah dan pengawalnya berubah menjadi harimau. Mesikpun ayahnya telah berubah wujud menjadi harimau, Kiansantang tetap berusaha membujuk ayahnya memeluk agama Islam. Namun harimau-harimau itu tidak mau mendengarkan ajakan Kiansantang, mereka lari ke daerah selatan, kini termasuk wilayah Garut. Raden Kiansantang berusaha mencegah, namun usahanya gagal. Harimau-harimau itu masuk ke dalam goa yang kini dikenal dengan nama Goa Sancang yang terletak di Leuweung Sancang Kabupaten Garut.

Di samping legenda tersebut, ada pula yang mengisahkan terjadi pertempuran hebat antara Raden Kiansantang dan Prabu Siliwangi. Wallahu a’lam.

HIKMAH CERITA DAERAH

Dari kisah asal-usul Hutan Leuweng Sancang, Garut di atas, dapat kita ambil satu hikmah tentang bagaimana ucapan seseorang itu bisa menjadi suatu doa yang bisa jadi dikabulkan oleh Allah yang Mahamendengar, Mahakuasa terhadap segala sesuatu yang ada di langit dan Bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya. Sehingga kita diperintahkan untuk berkata yang baik atau diam. Karena setiap manusia berada di dekatnya dua malaikat yang duduk di sebelah kiri dan kanannya. Sebagaimana Allah berfirman pada ayat ke-16-18 dari surat Qaf, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” [QS 50: 16-18].

Hidayah adalah wewenang Allah sebagai Yang Mahamemberikan hidayah, adapun manusia sebagai seorang hamba tugasnya adalah berusaha untuk menyampaikan kebeneran kepada manusia. Ketika kita sebagai seorang hamba telah melakukan usaha dalam menyempaikan suatu kebenaran kepada orang lain termasuk kepada orang tua kita, maka selayaknya kita serahkan hasil akhirnya kepada Allah Yang Mahamemberikan hidayah, jika orang yang diajak mengikutinya maka kita bersyukur karena kita berharap akan mendapatkan pahala dari usaha menyampaikan kebenaran tersebut. Akan tetapi, ketika ajakan kita tidak ditanggapi seperti yang diharapkan, maka bersabar adalah respon yang tepat, bukan mengeluh atau kecewa terhadap keputusan yang Allah telah tetapkan. Seakan kitalah yang menentukan hasil akhir dari usaha kita. Sebagaimana ketika Kiansantang yang merasa kecewa lantaran ajakan dirinya kepada ayahanda Prabu Siliwangi yang tidak dihiraukan dan hingga akhirnya dia mengucapkan suatu ucapan yang kurang pantas diucapkan oleh seorang anak kepada ayahandanya, dan akhirnya ucapan tersebut ternyata didengar dan dikabulkan oleh Sang Mahakuasa, Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Karena bagaimanapun juga setiap ucapan ketika disampaikan pada waktu dan tempat yang mustajab dapat saja Allah Yang Mahaberkehendak menjadikan ucapan itu terjadi ketika Allah sudah menetapkan kehendak-Nya. Sebagaimana ucapan Nabi Yusuf 'alayhis salaam tatkala yang lebih menyukai dirinya dipenjara ketika dia digoda oleh para tamu wanita majikannya tatkala dia diminta keluar dari tempatnya sehingga timbul nafsu para tamu tersebut kepada Nabi Yusuf 'alayhis salaam. seperti dikisahkan dalam Al Quran surat Yusuf ayat ke 33-35, “Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka…” (Q.S: 12:33), kemudian perkataan Yusuf tadi diperkenankan oleh Allah, Rabbnya, “Maka Rabb memperkenankan doa Yusuf…” (Q.S: 12:34), sehingga Allah jadikan sebab-sebab dipenjara sampai suatu waktu yang Allah Kehendaki, “Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai suatu waktu (Q.S: 12:35). Wallahu a'lam.

Most Popular

Garut Kuliner Malam

Jumat 14 Agustus 2020 Bupati Garut Bapak H. Rudy Gunawan, SH, MH, MP secara resmi membuka acara Garut kuliner malam yang nantinya...

Simulasi Acara “Garut Culinary Night”

Salam pesona garut Pada tanggal 13 agustus 2020 Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Garut H. Budi Gan Gan SH, M.Si dan Kepala...

Pelatihan Pemandu Wisata Sejarah dan Warisan Budaya

Salam Pesona Garut Pelatihan Pemandu Wisata Sejarah dan Warisan Budaya 2020 dengan lokasi Makan Syekh Jafar Sidiq dan Situ Candi Cangkuang yang di...

Proses Pembongkaran dan Pengangkutan Gerbong Kereta Api Mini di Situ Bagendit

Pada tanggal 13 agustus 2020 dilakukan proses pembongkaran dan pengangkutan gerbong kereta api mini di Situ Bagendit sebagai tahap awal dimulainya revitalisasi...

Recent Comments