24.4 C
New York
Monday, October 26, 2020
Home Destinasi Wisata Batu Tulis Barukai

Batu Tulis Barukai

Penelitian yang dilakukan di Kecamatan Bayongbong adalah terhadap sebuah prasasti di Kampung Barukai, desa Cigedug. Karena adanya prasasti tersebut Kampung Barukai sering juga disebut Kampung Batu Tulis. Bentang Alam (geomorfologis) wilayah ini merupakan pedataran tinggi bergelombang dengan ketinggian antara 1100 m sampai 1200 m di atas permukaan laut. Secara gegografis wilayah ini terletak pada 7º 20’ 00’ LS dan 107º 47’ 50’ BT. Daerah ini diapi oleh gunung Cikuray sebelah timur dan gunung Papandayan di sebelah barat.

Prasasti di kampung Bakurai berada pada sebidang kebun milik Bapak Mohamada Toha di pinggir jalan kampung. Areal berada pada suatu lereng. Disebelah barat pada jarak sekitar 100 m dari prasasti mengalir sungai Cikuray yang merupakan anak sungai Cimanuk. Areal situs merupakan ladang yang kurang terurus dan banyak ditumbuhi semak serta beberapa tanaman keras.

Prasasti itu sendiri berada pada suatu cekungan sekitar 0,50 m merupakan hasil pengupasan yang dilakukan penduduk pada tahun 1927. hinggasekarang penduduk masih mengkeramatkan dan senantiasa membersihkan prasasti tersebut.

Hasil penelitian terhadap prasasti tersebut, dapat diketahui prasasti ditulis pada sebongkah batu beerbentuk persegi empat. Jenis batu ditulis pada sebongkah batu berbentuk persegi empat. Jenis batu yang dijadikan meddia merupakan batuan andesittik. Ukuran batu 130 cm x 170 cm. ketyebalan yang terukur 15 cm dari permukaan tanah. Permukaan batu yang ditulisi tidak rata. Teknik penulisan dengan sistem gores yang tidak begitu dalam.

Jenis huruf yang dipakai adalah huruf Sunda Kuno. Prasasti terdiri dari tiga baris dan berbunyi sebagai berikut : 1. bhagi bhagya 2. ka 3. nu ngaliwat (Hasan Djafar, 1991 : 16) pada permukaan yang ditulisi juga terdapat goresan-goresan tebal dan dalam yang terbagi dalam beberapa kotak. Di dekat prasati pada sisi barat terdapat lempengan batu yang permukaannya rata. Lempengan batu tersebut berukuran 85 cm x 70 cm, dengan ketebalan 7 cm. sampai sekarang belum dapat diidentifiksikan kapan dan siapa yang membuat prasasti tersebut. Sulitnya karena tidak didukung oleh temuan-temuan artefak lain. Penduduk yang ti nggal didekat lokasi punbelum pernah menemukan artfak misalnya fragmen keramik atau gerabah. Demikian temuan penting peninggalan kepurbakalaan hasil penelitian Tim Peneliti dan Balai Arkeologi Bandung yang dilakukan pada tahun 1994 di tiga kecamatan, di kabupaten Garut. Sangat disayangkan sampai sekarang belum ada ketetapan atau keputusan hukum dari pemerintah, dalam hal ini yang berkompeten Direktorat Perlindungan dan Pembinann Peninggalan Sejarah dan Purbakala, menetapkan bahwa benda-benda peninggalan itu sebagai BCB yang harus dilindungi keberadaanya. ( Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut ).

Most Popular

Garut Kuliner Malam

Jumat 14 Agustus 2020 Bupati Garut Bapak H. Rudy Gunawan, SH, MH, MP secara resmi membuka acara Garut kuliner malam yang nantinya...

Simulasi Acara “Garut Culinary Night”

Salam pesona garut Pada tanggal 13 agustus 2020 Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Garut H. Budi Gan Gan SH, M.Si dan Kepala...

Pelatihan Pemandu Wisata Sejarah dan Warisan Budaya

Salam Pesona Garut Pelatihan Pemandu Wisata Sejarah dan Warisan Budaya 2020 dengan lokasi Makan Syekh Jafar Sidiq dan Situ Candi Cangkuang yang di...

Proses Pembongkaran dan Pengangkutan Gerbong Kereta Api Mini di Situ Bagendit

Pada tanggal 13 agustus 2020 dilakukan proses pembongkaran dan pengangkutan gerbong kereta api mini di Situ Bagendit sebagai tahap awal dimulainya revitalisasi...

Recent Comments